=======================================================================
'aku tak dapat berbicara banyak, ini terlalu menyeramkan untuk dikatakan, kelas itu kelas kutukan!'
======================
'aku berjalan menyusuri koridor kelas hawa-hawa tak tenang menyelimuti aura disekitarku saat itu hari begitu cerah sinar matahari masuk menembus jendela-jendela kaca di sampingku, aku sediki mempercepat langahku..cepat..cepat..cepat saat itu yang terpikirkan olehku hanyalah secepatnya kembali keruang kelasku, aku salah waktu.. TIDAAAK!!! aku harus bagai mana, aku terus-terusan beguman dalam hatiku'
BRUUUUGGG.!!!
'itu garo, dia apa yang dia lakukan bersama murid kelas rosemary, aduh kakiku' gadis itu hanya terdiam di persimpangan koridor kelas yang senyap kakinya gemetar terlihat keringat dingin membasahi pipinya
"garrrooo", panggil gadis itu lirih dan hampir tak terdengar karna takunya melihat teman sekelasnya babak belur oleh seorang gadis berambut pendek dari kelas rosemary itu.
salah satu murid rosemary berhenti seakan merespon panggilan barusan
'hah.. kapan? kenapa?' gadis itu mematung ketika sadar seorang pemuda bernama Alano berada didepanya, gadis bernama Aello itu melepaskan kerah baju garo dan kemudian menyusul Alano
"siapa?". tanya gadis itu
laki-laki itu tersenyum "Sacy, kan?",
'deg..!!! kenapa Alano tau namaku?'
"oh, Sacy, kah?", kata Aello tersenyum sinis
'dia...Berbahaya.. senyumnya....aku tau dengan pasti itu senyum sinis' kata sacy dalam hati.
BRUUUUGGGGG..!!
tongkat baseball melayang ke arah sacy, sesaat kemudian sacy tak sadarkan diri.
=======================
sacy terbangun diruang kesehatan remang-remang silau lampu menyilaukan pendanganya sesaat ingatanya blank namun cepat-sepat gadis itu tersadar
"garooo!!rosemary! hah rosemary??",kara sacy terduduk kaget memgigat kata rosemary gadis itu mencoba mengigat-ingat kembali kejadian yang baru menimpanya
sreeetttt....
tirai skat ruang keseharan digeser, seorang perawat paruh baya datang buku catatan berwarna biru tua
'medusa'sacy sesaat tertegum kaget melihat perawat yang terkenal dengan nama medusa itu.
medusa mengambil kompres es yang menempel di pipi sacy dan beberapa saat kemudian sacy baru sadar pipi kanannya terasa sangat sakit
"kau sepertinya terjatuh cukup keras", kata medusa.
'terjatuh aku'guman sacy dalam hati.
"kening dan pipimu mungkin masih terasa sakit karna memang memar, beberapa luka di kaki dan tanganmu sudah aku beri perban, gantilah setiap hari", kata medusa "ini" lanjutnya lagi sambil memberikan cermin pada sacy.
"emm.. anu bagai mana saya bisa disini?", tanya sacy terbata-bata
"seseorang menemukanmu di bawah tangga dan dia bilang sepertinya kamu terpeleset dan jatuh",
'terpeleset? jatuh? bagai mana mungkin terakhir aku berada dilantai satu terpeleset? dari mana?' guman sacy lagi dengan mata seolah berkata "tidak aku tidak jatuh medusa",
tapi perawat itu telah keluar dan menutup pintu ruang kesehatan.
"hah percuma saja kalau aku bilang ini ulah murid rosemary, tidak ada bukti, meskipun ada yang percaya, itu tak lebih hanya akan menjadi sebuah gosip", guman sacy yang merebahkan tubuhnya yang merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Sacy terbangun dari tidurnya dilihatnya kondisi sekelilingnya, hari mulai terlihat gelap langit sore menampakkan warnanya. sacy melirik pergelangan tangannya dan baru dia sadari jam tangannya hilang
"jamku..!!", sacy merogoh kantung baju dan roknya, mencari kesetiap sudut ruang kesehatanpun tetap dia tidak menemukannya, diliriknya jam dinding ruang kesehatan menunjukkan jam setengah 4 sore. sacy memutuskan untuk kembali keasrama dan beristirahat.
=========================
Murid-murid kelas 2-1 berhamburan keluar kelas kelas menuju ruang ganti karna pelajaran salanjurnya adalah P.E
"oh.. bajuku?", kata sacy membuka lokernya
"mungkin masih diruang cuci",kata vera
"ahh..aku ambil dulu kalau begitu, sacy berlari kecil menuruni tangga yang menghubungkan lantai 4 dan lantai 3 menuju lantai 2
dari lantai 2 sacy berjalan santai menuju ruang cuci dan perlahan membuka pintunya
untuk sesaat sacy nampak mematung di lihatnya garo memakai kaus olahraganya
"hey Sacy",sapa garo dengan senyumannya
"ga..roo?", sacy tak percaya melihat garo didepannya tanpa luka apapun
"iya?!, kenapa kamu menatapku seperti melihat hantu?".
"kenapa kamu baik-baik saja?",
"haruskah aku terluka parah?", tanya pria itu lagi
"iya, harusss", jawab sacy
"aduh kamu ini, ya sudah ayo kelapangan", kata garo berlari kecil keluar menuju lapangan.
sacy masih tidak percaya dengan situasi yang barus saja di alaminya
'garo baik-baik saja? kenapa bisa? kemarin dia terluka parah. apa kemarin hanya sekedar mimpi? tapi terlalu nyata untuk hanya sekedar mimpi' kata sacy kemudia berjalan menghadap cermin.
'ini masih sakit' guman sacy dalam hati sambil menyentuh wajahnya 'rasa sakitnya nyata'
dengan keadaan setengah sadar sacy mencoba mengejar garo.
sacy hanya terdiam di persimpangan koridor kelas yang senyap kakinya gemetar terlihat keringat dingin membasahi pipinya lagi, Atmosfir ini lagi, perasaan ini lagi ketika melihat garo babak belur di hadapannya sama seperti kemarin.
"garrrooo", panggil sacy itu lirih, memgigat dia kemarin juga melakukan hal yang sama, setelah sadar sacy secepatnya menutup rapat mulutnya dengan kedua tangannya.
Alano perlahan tapi pasti menuju kearah sacy, rasa takut menyelimuti benak sacy,
Aello melirik kearah sacy dengan pandangan tidak senang aello menghempaskan garo yang terluka parah ke lantai dan berjalan menuju sacy sambil menyeret tongkat baseballnya
sacy perlahan langkahnya mundur "takut"itu perasaan yang ada dibenaknya tanpa ia sadari ia sudah ada dibibir anak tangga "tab" sacy tergelincir Aello mencoba menyodorkan tongat baseballnya dengan maksud untuk pegangannya sedetik lebih cepat Alano menggapai tangan sacy dan menariknya menjauhi tepi tanggan
"mau tau dari mana kamu dapat luka itu?", bisik Alano
sacy terkejut dan langsung mendorong Alano menjauh.
seorang laki-laki menyenderkan tangannya di bahu alano dan sebelah tangannya memamerkan benda yang tak asing lagi bagi sacy
"jam tanganku", kata saci mencoba meraihnya tapi tak sampai.
"ternyata benar dia orangnya", kata pria yang dikenal bernama yoga itu pada laki-lagi di belakangnya sambil melemparkan jam tangan milik sacy kepada laki-laki itu.
laki-laki itu keluar dari koridor yang gelap dan menampakkan wajahnya.
"leon lihat apa yang kita temukan",kata yoga beralih kebelakang leon
' jadi ini yang namanya leon' guman sacy melihat kearah laki-laki itu
laki-laki yang mengenakan jaket putih, dia berjalan mendekati sacy.
sacy yang ketakutan mulai mundur beberapa langkah dan meraih pegangan tangga dibelakangnya tanpa menghadap kebelakang.
sejenak gadis itu memejamkan matanya
'LAKUKAN!!'gumannya dalam hati
sedetik kemudian dia berlari menuruni anak tangga.
"gadis itu beraninya.."guman Aello geram
"dia tidak akan lepas.."sambungnya yang hendak menyusul sacy
"biarkan untuk saat ini, kita juga belum tau dia manusia atau virus",kata leo sambil memasukkan jam tangan sacy ke saku jaketnya "selesaikan pekerjaan kalian sekarang !!",sambungnya lagi yang diiyakan yang lainnya.
===================
"hah hah hah. apa tadi itu",kata sacy mengatur nafasnya dipinggir lapangan
"sacy disini..disini", vero berteriak sambil melambaikan tangannya memanggil sacy dari tengah lapangan
"iya", jawab sacy berlari kecil menuju tengah lapangan sesaat kemudian dia memalingkan wajahnya untuk menengok ke arah jendela lantai dua, samar-samar terliahat seseorang dikegelapan.
"sacy, kemana saja kamu? kenapa lama sekali",
"anuu.. tadi garo..aduh garo anu",jawab saci terbata
"garo? siapa dia? jangan-jangan dia kakak kelas kita? apakah dia tampan?",
"hah ohh nggak papa",
'kenapa vero tidak mengenal garo? ada apa ini ?'
"ah lupakan ini juga nggak ada urusannya denganku, lupakan!!",kata sacy
"kamu ngomong sesuatu sacy?",tanya vero kebingungan
"oh, nggk..",jawab sacy
"ohh kalau begitu lihat aku bertanding ya?",kata vero masuk ke lapangan tenis
sacy yang duduk di pinggir lapangan tenis pun hanya mengangguk meng iya-kan permintaan vero.
Selesai olahraga mereka pun berkemas untuk melanjutkan mata pelajaran selanjutnya
"sacy ayo mandi sekalian, aku terlalu banyak berkeringat mau yang seger-seger", ajak vero mengelap keringatnya menggunakan handuk kecil sambil berjalan kearah ruang ganti.
"oke",sambut sacy.
terlihat para murid perempuan berdesakan di pintu masuk ruang ganti
"kenapa mereka tiadak masuk sih?", eluh vero yang berdesakan menuju pintu masuk yang diikuti sacy.
sacy dan vero sama-sama tertegun ketika melihat 2 orang wanita duduk di bangku ruang ganti
"hah lihat-lihat murid rosemary sedang apa mereka berdua?",
"bukankah itu Aello dan julia?",
"apa yang harus kita lakukan?",
"sebentar lagi akan masuk pelajaran selanjutnya",
bisik-bisikan dan eluhan berdatangan dari murid-murid berdesakan di pintu masuk
"kalian berdua mau sampai kapan kalian disana?", kata vero yang memencahkan lamunan sacy dan membuat susana hening seketika.
julia dan Aello pun menengok ke arah sumber suara
"haaa..", kata Aello yang langsung merubah raut ajahnya yang dari awalnya diam menakutkan menjadi ceria penuh seyuman seketika itu Aello berlari kearah kerumbunan para gadis-gadis yang diam membeku itu.
"aku menunggumu lama sekali", kata aello menarik sacy ke dalam ruang ganti dan memeluk erat sacy.
"ketemu", kata Aello girang sambil memamerkan benda yang didapatnya dari kantung sacy
"ahh..ponselku",kata sacy
"aku pinjam dulu ya saa..cyy", kata Aello keluar dari ruang ganti
"sampai ketemu nanti sacy",kata julia menyusul aello
murid-murid itupun tanpa komando membuka jalan sendiri untuk aello dan julia.
semuanya masih tertegun melihan keakraban sacy dan murid rosemary itu gadis-gadis itupun masuk tampa berani menyapa ataupun melihat sacy, vero hanya sesekali melirik dan bergegas pergi.
====================================================================
"bagaimana?",
"dia aman, aku tidak mencium bau virus ditubuhnya dan juga murid-murid lain bisa melihatnya",kata Julia memakai kaca matanya
"aku suka aroma tubuhnya, mirip aroma leon",
"lalu pertanyaanya siapa dia?bagaimana dia bisa melihat virus yang bernama garo itu",kata leon memainkan jam tangan milik sacy.
"bukan hanya itu dia juga memgingat dimensi waktu yang dimainkan virus itu",
"mungkin dia sama seperti kita", jawab Aello riang yang cenderung memiliki sifat kekanak itu
leon, aello, aleo, yoga, julia dan 6 anggota rosemary lainnya tapak tegang
"oke untuk sekarang kita jalankan rencana semula saja", kata leon
"aello tolong berikan ponsel gadis itu"sambung leon mengakhiri pertemuan malam itu.
"ini", kata Aello memberikan ponsel sacy dengan riang lalu menyusul anggota rosemary lainnya pergi meninggalkan ruang pertemuan.
"kenapa kamu masih disini?",tanya leon pada seseorang yang berdiri di sudut gelapnya ruangan itu.
"apa rencana mu sebenarnya leon?", tanya gadis yang bernama volpi itu.
"entahlah tidak ada", jawab leon beranjak meninggalkan gadis itu.
volpi hanya tersenyum sinis sambil memainkan rambut hitam panjangnya yang terurai
====================================================================
Pagi harinya ternyata rumor tentang sacy yang akrab dengan murid kelas rosemary itu pun menyebar luas ke seluruh sekolah bahkan gosib-gosib baru menjadi-jadi tentang sacy dan kelas rosemary dari gerbang masuk sekolahan, koridor hingga di kelas semua orang berbisik dan memandan sinis sacy, gadis itu hanya bisa menunduk karna mereka akan langsung kerakutan dan berlari ketika sacy memandang mereka.
pada jam istirahat pertama gadis yang mempunyai rambut sebahu yang menjadi pemberitaan paling hangat itupun hanya tertunduk lesu di tempat duduknya di belakan pojokkan kelas
suasana kelas yang ramaipun tak lagi dihiraukan gadis itu didalam pikirannya paling mereka sedeng bergosip tentangnya dan anak kelas rosemary itu.
tanpa dia sadari 2 orang laki-ladi dan satu perempuan berjalan mengarah padanya.
"ahh itu..itu sacyn",teriak girang Aello menunjuk sacy
"Aello",kata leon menahan tangan Aello yang hendak menghampiri sacy yang masih asik dalam lamunannya itu. leon kemudian berjalan menuju samping sacy
"sacy", panggil leon namun tak di gubris sacy
"sacy",
"SACY", kata leon sedikit kerang dengan menggebrak meja sacy.
"hah", sacy yang terkejut reflek berdiri hingga membuat kursi yang didudukinya jatuh tidak hanya samapi disitu saja rasa terkejutnya sacy masih harus terkejut 2 kali karna meliat siapa yang dihadapannya.
"Leon?", kata sacy lirik, sedetik kemudian dia tersadar dari terkejutanya itupun mudur hingga tubuhnya menabrak tembok.
leon mendekati sacy dan mengulurkan menda dari kantung jaket putihnya.
"ponselku", kata sacy tanpa berani menggerakkan tangannya meraih ponselnya yang disodorkan Leon. ketakutan sacy tergambar jelas di wajahnya dan tubuhnya yang gemetaran tak terhankan.
berikan padaku pinta een(dibaca e-n bukan e'en oke)pada leon, leon pun memberikan ponselnya pada salah satu murid rosemay itu.
enn kemudian mengetikkan sesuatu di ponsel sacy dan memberikannya pada sacy
sacy yang belum bergeming dalam ketakutanya itu di paksa menggenggam ponselnya oleh een dan meninggalkannya dalam keadaan yang belum pulih dari ketakutannya 100% itu
"sapai jumpa sacyn", kata aello melambaikan tangannya dan menyusul leon dan een meninggalkan ruang kelas sacy
ketika tersadar sacy yang melihat sekelilingnya sangat ramai bukan hanya dari murid kelasnya saja tapi beberapa murid kelas sebelahnya.
sacy hanya bisa kembali tertunduk sambil membenarkan kursinya.
hening terasa saat jam pelajaran kembali dimulai hampir tak ada yang berani mengeluarkan suara. ketakutan mereka bukan tanpa alasan masih dalam bulan ini murid-murid rosemary terlihat merusak hampir 1 ruang kelas hampir semua meja dan kursi rusak, papan tulis terbelah lantai dan tempok retak, masih dibulan ini juga merekan memecahkan seluruk kaca lantai 2 gedung utama membakar 1 rak buku yang ada diperpustakaan dan masih banyak lagi masalah yang mereka buat, hukum disekolah tidak berlaku untuk mereka setelah melakukan kekacauan sekolah hanya mengganti segala sesuatu yang rusak tanpa mengeluarkan pernyataan tentang kejadian itu.
pernah beberapa kali murid rosemary menyerang murid reguler entah apa alasannya, beberapa alasan itu cukup membuat murid-murid reguler itu ketakutan pada 11 murid rosemary itu
jam makan siang sacy seperti biasanya menuju kafetaria. sacy berdiri memengang piring makannya berjalan kearah bangku kosong di pinggir jendela,
semua murid-murid itu beralih ketika sacy duduk satu meja dengan mereka. memang tak dapat di pungkiri hal itu menyakiti hatinya.
sacy hanya duduk menikmati makanannnya sambil melepas pandangannya ke arah luar jendela. tak beberpa lama kemuadian satu piring tertaruh dihadapanny disusul beberapa piring lainnnya.
"sacyn..aku merindukanmu",kata seorang gadis merangkul sacy
"hay sacy", sapa Julia.
sacy menatap kesekelilingnya dilihatnya semua murid rosemary duduk dan makan dengan berbagai macam raut wajah disatu meja dengannya.
"kenapa kalian semua disini", tanya sacy lirih dengan menggenggam erat sendok makannya.
"maaakan", jawab Aello yang duduk di samping sacy
"maksudku apa alasan kalian mendekatiku?",
"alasan?kami memiliki beberapa alasan",jawab yoga santai
"apa?"tanya sacy lagi
"sehabis sekolah datanglah ke kelas kami", jawab Alano santai sambil melanjutan makannya
sedar tadi sacy sudah gusar dengan banyak pasang mata yang melihat kearah mereka.
"hei kau tau kabar terhangat saat ini", kata salah seorang gadis bergosip di kamar keci
"apa?",gadis2 pun menanggapi
"kau tau gadis kelas 2-1 bernama sacy kan",lanjut si gadis
"oh aku dengar dia salah satu dari murid rosemary itu kan",
"ah itu cerita lama, yang terbaru aku dengar dia adalah mangsanya bukan anggotanya",terang gadis itu
"wah menakutkan",
"dan lagi katanya kalau kamu melihat matanya, nasib sial bisa berujung padamu",
"Bruggg",toilet ke 2 di buka secara kasar seorang gadis berambut sebahu keluar dan membasuh tengannya di estafel,
"saaaacyy",kata gadis-gadis itu berlari meniggalkan sacy ketakutan.
sacy membasuh tangannya sambil berkaca di toilet di pandangi wajahnya dalam-dalam
"huh, apa yang harus aku lakukan", eluh sacy sambil mengambil sapu tangan di kantung roknya namun ronselnya ikut tertarik dan terjatuh di lantai
diambilnya ponselnya dan tak sengaja dia melihat pesan yang tertulis di ponselnya
<temui aku setelah pulang sekolah di atap>
Sacy mengingat kejadian ketika een mengembalikan ponselnya yang sebelumnya terlihat mengetik sesuatu di ponselnya.
tanpa di ekspresi tertentu sacy mesukkan kembali ponselnya dan berjalan keluar toilet.
sacy terlihat berjalan menyusuri tangga menuju ruang kelas rosemary
"hey bukankah itu sacy",kata salah seorang gadis
"iya, ternyata rumor itu benar vero", kata gadis itu pada vero
vero tak menjawab tatapannya terarah serius pada sacy yang berjalan sendiri menuju lantai berikutnya itu.
"ver..veroo",panggil salah seorang gadis itu
"ayo ini sudah waktunya kita latihan tenis",kata vero meninggalkan 2 gadis itu
sacy memegang erat ponselnya di depan sebuah pintu. beberapa saat kemudian pintu itu di bukan dan terlihat ruangan cukup besar dengan fasilitas yang bisa dibilang lengakap,
sacy memeandagi isi ruangan tersebut dilihatnya murid-murid rosemary beraktifitas di ruangan itu.
"kita kedatangan tamu", kata yoga mendekati secy
"sacyn",kata Aello menarik masuk sacy
"duduk lah",kata Alano memandagi sacy yang mulai duduk di sofa berwatna putih itu
mata sacy memandang kepenjuru ruangan itu
'een tidak ada disini,apa mungkin dia di atap?',kata sacy dalam hati
"kita mulai dari mana ini",tanya Alano
semua yang ada diruangaan itu mendekat berkumpul di dekat sacy
"aku...aku permisi sebentar..maaf!",kata sacy berlari meninggalkan ruangan itu
"Ahhhh Alano, kamu terlalu menakutkan, lihat...lihat sacyn pergi",kata Aello sebal
sacy tiba di atap matanya langsung tertuju pada seorang laki-laki yang tertidur di sebuah bangku
"een",panggil sacy
"hey",terdengar suara dari belakangnya kerika gadis itu hendak menengok terasa tangan memegang bahunya
"een?",
laki-laki itu mengguncang sekali bahu sacy, seketika itu pula sacy terhentak
ketika dia buka matanya pemandangan langit sore terpapar didepan matanya
"siapa sebenarnya kamu?",tanya een menarik kasar kerah baju sacy
"sakit, turun kan aku bodohhh",kata sacy menendang tulang kering kaki kanan een
sontak een melepaskan kerah sacy dengan kasar
"aku?aku ya aku?",kata sacy sebal
"tadi..tapi apa yang kamu lihat?", tanya een yang terduduk di lantai.
"apa itu penting?",
"JAWAB SAJA,!!",kata-kata bernada tinggi keluar dari raut wajah een yang terlihat kesal.
sacy terkejut mendapatkan bentakan kasar dare een kakinya reflek melangkah satu langkah ke belakang
"een membaring kan tubuhnya mencoba untuk releks
"kau tau aku menunggumu 1 jam disini sebelumnya aku bersantai di kursi itu hingga akhirnya aku putuskan untuk untuk turun tapi kamu akhirnya datang",kata een panjang lebar
"maksudmu kamu marah karna menunggu terlalu lama?",
"sejauh mana bodohmu?", kata een beranjak dari lantai menuju lantai bawah
"hah?", wajah sacy tampak berubah, keterkejutannya jelas tergambar di wajahnya setelah sadar dari keterkejutannya sacy langsung berlari menuju een
"e--n tunggu, tunggu een",sacy meraih dan mencengkram erat baju seragam berwarna putih tang di kenakan een
"lepaskan", kata ee berhenti menahan emosinya.
"ahh maaf",kata sacy melepaskan tangannya dari baju een
"aku yakin kamu sudah sadar kan?",tanya een mulai melajutkan jalannya.
"i-iya",kata sacy sedikit terbata dan mencoba menyesuaikan langkah kakinya dengan een
enn membuka pintu kelas rosemary dan masuk kedalamnya diikuti sacy di belakangnya. sacy menegakkan kepalanya 'mereka tidak semenakutkan yang aku kira, mereka baik yah meskipun tidak semuanya', batin sacy
"maaf aku perginya lama,"kata sacy kembali duduk kembali di tempat duduknya sebelumnya
"siapa yang mengijinkan mu duduk di tempat dudukku?",kata een yang sedang bermain bilyard
Aleon meraih vas bunga dari bahan keramik berniat meleparnya ke arah een namun belum sempat tangannya menyentuh vas itu sacy telah melempar anak panah yang ada didepannya menuju dartz board tepat di titk tengahnya persis melewati wajah een
